19 Februari 2026 - 20:30
Penulis Yaman: Pidato Pemimpin Revolusi Islam Iran Menawarkan Perspektif Geopolitik Baru bagi Dunia

Seorang penulis Yaman dalam analisisnya tentang perkembangan terbaru kawasan dan ancaman Amerika terhadap Republik Islam Iran menulis: pada tingkat politik, pidato Pemimpin Revolusi merupakan pengumuman resmi kegagalan kebijakan tekanan maksimum; alih-alih sanksi dan ancaman membuat Teheran mundur, justru pernyataan-pernyataan ancaman mendorong Teheran meningkatkan tingkat respons strategisnya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pidato terbaru Pemimpin Revolusi Islam masih terus memunculkan reaksi dan analisis di media serta kalangan politik dunia setelah dua hari berlalu. Para analis Arab dan Barat menilai pernyataan tersebut memiliki dimensi strategis yang secara langsung menargetkan Amerika Serikat dan sekutunya. Mematahkan keangkuhan Amerika dan bahwa agresor harus membayar harga mahal atas agresinya merupakan dua pesan penting pidato tersebut kepada Washington.

Dalam konteks ini, «Abdulqawi al-Sabai» penulis Yaman dalam artikelnya di al-Masirah menulis: pada momen sensitif politik, ketika bahasa ancaman keras bertemu dengan kalkulasi kekuatan yang kompleks, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Iran, memutuskan menawarkan perspektif geopolitik baru kepada dunia dan menaikkan level wacana ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pidato ini dari sisi kosakata bersifat menentukan dan dari sisi waktu serta tempat dipilih secara sangat tepat. Ia memiliki dimensi strategis yang langsung menargetkan Gedung Putih dan menyampaikan pesan bahwa Iran tidak membaca pesan Amerika melalui diplomasi tradisional, melainkan memandangnya sebagai upaya baru untuk memaksakan kehendak dan mematahkan persamaan keseimbangan yang telah puluhan tahun dijaga Teheran.

Kajian cermat atas pidato hari Selasa lalu menunjukkan perubahan mendasar dalam pengelolaan konflik ini. Berkas nuklir yang lama dianggap isu teknis atau teknologi, dalam pidato tersebut berubah menjadi judul besar perjuangan kemerdekaan nasional dan kedaulatan mutlak, melampaui rincian kadar pengayaan dan mekanisme pengawasan internasional menuju hak negara untuk memiliki keputusan strategis independen tanpa perwalian internasional atau tekanan imperialis.

Peningkatan ketegangan dari pihak Iran ini merupakan respons langsung terhadap retorika berulang Washington, khususnya pernyataan-pernyataan Trump yang menuntut negosiasi ulang dengan syarat lebih keras dan lebih terbatas.

Namun Ayatullah Khamenei dengan pandangan analitis terhadap politik Amerika tidak melihat tuntutan itu sebagai “inisiatif dialog”, melainkan upaya memaksakan prasyarat yang mempengaruhi eksistensi negara Iran. Di sinilah inti pidato: penolakan mutlak terhadap negosiasi yang hasilnya telah ditentukan sebelumnya di ruang tertutup Washington.

Dari sudut pandang Iran, jika sebuah negara diminta duduk berunding dengan syarat menyerahkan sumber kekuatannya terlebih dahulu, itu bukan negosiasi, melainkan pemaksaan dan penyerahan terselubung. Karena itu Pemimpin Revolusi menegaskan bahwa perselisihan dengan Barat bukan perselisihan teknis tentang sentrifugal, melainkan perjuangan eksistensial antara kehendak kebebasan nasional dan kehendak hegemoni global.

Bagi Teheran, isu ini menyangkut kedaulatan yang tidak dapat dibagi dan tidak bisa dinegosiasikan, dan pemberian konsesi di bawah tekanan dalam berkas nuklir berarti rangkaian konsesi yang hanya melemahkan fondasi Republik Islam sebagai negara independen.

Di puncak tantangan, Ayatullah Khamenei beralih dari pertahanan politik ke pencegah militer langsung dan memberi pukulan psikologis pada teori “superioritas mutlak”. Ketika Trump membanggakan memiliki tentara terkuat di dunia, jawaban Iran mengingatkan fakta historis-strategis: besar tidak berarti kebal dari kekalahan. “Tentara terkuat pun bisa menerima pukulan telak hingga tak mampu bangkit” dan senjata yang mampu menenggelamkan kapal induk lebih berbahaya daripada kapal induk itu sendiri dalam keseimbangan perang modern.

Pesan ini memiliki dua dimensi berbahaya: pertama, mematahkan prestise militer Amerika dengan menegaskan keunggulan teknologi tidak mencegah kerugian besar yang tak bisa ditanggung Washington; kedua, peringatan jelas terhadap penargetan kepentingan vital atau maritim — setiap konfrontasi tidak akan sepihak dan akan mahal bagi agresor.

Selain itu, penegasan bahwa Republik Islam bukan rezim rapuh yang bisa dijatuhkan ancaman menunjukkan tingkat kepercayaan diri tinggi terhadap kemampuan pertahanan dan kohesi internalnya, yang bahkan menjadikan ancaman eksternal sebagai bahan penguat identitas nasional.

Pada tingkat politik, pidato tersebut merupakan pengumuman resmi kegagalan kebijakan tekanan maksimum; bukannya membuat Iran mundur, ancaman justru meningkatkan respons strategisnya.

Analisis posisi ini menunjukkan peningkatan retorika tidak berarti deklarasi perang, melainkan taktik menentukan aturan konflik dalam setiap proses negosiasi masa depan. Dengan ketegasan ini, Teheran mengirim pesan kepada kawan dan lawan bahwa tawaran sebelumnya adalah “maksimum yang bisa diperoleh”, dan setelah itu hanya ada komitmen pada hak tanpa konsesi.

Dengan taktik ini, Ayatullah Khamenei menggambar garis merah berbasis kekuatan dan kedaulatan: tidak ada negosiasi di bawah dikte, tidak ada pelanggaran terhadap kemerdekaan nasional, dan setiap upaya mematahkan kehendak Iran akan mendapat respons yang mengubah persamaan seluruh kawasan.

Kesimpulannya, pidato Pemimpin Revolusi Iran merupakan pedoman politik yang membuktikan kekuatan bukan hanya pada laras senjata, tetapi pada kemampuan mengatakan “tidak” kepada mereka yang dianggap adidaya — dengan kesiapan penuh menanggung konsekuensinya.

Hal ini membuka pertanyaan serius tentang masa depan kawasan: apakah Washington akan memahami pesan ini dan mengubah bahasa diktatnya, atau dunia menuju benturan kehendak yang akibatnya tidak menguntungkan Amerika dan sekutunya?

Your Comment

You are replying to: .
captcha